BAB
I
BACKUP DAN RESTORE
BASISDATA
Hampir setiap komputer server
yang difungsikan sebagai web server saat ini memerlukan basisdata. Karena
pentingnya menjaga keutuhan data ini, alangkah baiknya jika ada suatu kebijakan
khusus yang diterapkan. Salah satu kebijakan yang penting adalah mengenai
backup data. Dengan adanya sistem backup-restore yang baik akan dapat menjaga
keberlangsungan data dan sistem.
Saat ini terdapat banyak sistem
basisdata yang telah dikembangkan dan hampir semuanya telah menyediakan dukungan
backup dan restore. Salah satunya yang didukung oleh sistem Debian adalah
sistem basisdata MySQL. Basisdata MySQL merupakan sistem basisdata client
server yang dapat mendukung pengolahan data relasional. Secara umum basisdata
dapat dikatakan sebagai kumpulan data. Lebih jauh basisdata merupakan kumpulan
data yang ditata dengan menggunakan aturan dan struktur tertentu. Secara
default basisdata tidak terinstal pada Debian, untuk menginstalnya dapat
menggunakan perintah berikut ini.
apt-get install mysql-server
Paket MySQL ini berada pada DVD 1
dari Debian 7. Berikut ini merupakan contoh hasil eksekusinya.
Pada saat
instalasi MySQL akan ada data yang perlu diberikan, yakni password untuk user
root MySQL. Paket MySQL ini berada pada DVD 1 dari Debian 7. Apabila instalasi berhasil, status dari keaktifan layanan
MySQL dapat dicek melalui perintah
ini.
/etc/init.d/mysql status
Cara lain untuk menguji hasil
intalasi MySQL adalah dengan mencoba masuk ke sistem database MySQL melalui
perintah berikut ini.
mysql –u root -p
Pada saat perintah ini dijalankan
aplikasi akan meminta password root MySQL untuk login ke sistem. Jika login
berhasil akan muncul tampilan seperti berikut ini.
Gunakan perintah exit untuk
keluar dari sistem MySQL.
Perintah berikut dapat digunakan
untuk mengaktifkan layanan MySQL apabila dari pengujian diatas belum aktif.
/etc/init.d/mysql start
BACKUP DATABASE
Proses backup basisdata di MySQL
dapat dilakukan dengan menggunakan perintah berikut ini.
mysqldump -u nama user -p --data bases nama database
> /lokasi/filebackup.sql
Keterangan:
a. Nama database adalah nama
database MySQL yang akan dibackup.
b. /lokasi/filebackup.sql adalah
file yang akan digunakan untuk menyimpan isi file database.
Perintah diatas apabila berhasil
akan memberikan hasil berupa file backup dalam format SQL MySQL. Contoh penerapannya ditunjukkan pada gambar berikut.
RESTORE DATABASE
Dari file yang dihasilkan oleh
aplikasi mysqldump atau program lainnya yang mampu menghasilkan file SQL akan
dapat dikembalikan lagi ke sistem database MySQL. Pengembalian ini dapat
dilakukan dengan menggunakan perintah berikut.
mysql –u root –p < /lokasi/file.sql
Perintah ini akan dapat berhasil
dijalankan apabila pada MySQL saat ini database yang dituju belum ada. Terdapat
banyak variasi dalam backup dan restore di MySQL. Hal ini dapat dipelajari
lebih lanjut pada dokumentasi program mysqldump dan mysql atau dapat
mengunjungi situsnya di alamat mysql.org. Contoh penerapan dari peintah diatas diberikan pada gambar berikut.
Pada contoh diatas ada beberapa perintah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa proses restore berhasil dilakukan. Tabel/daftar yang ditampilkan diatas adalah kumpulan basisdata yang ada di MySQL. Database yang dijadikan percobaan ini adalah database test.
Selain menggunakan cara diatas
backup database MySQL juga dapat dilakukan menggunakan teknik backup jaringan
ataupun lokal. Ini dimungkinkan karena semua database dan tabel serta
konfigurasi MySQL disimpan dalam bentuk file yang oleh sistem Debian
ditempatkan di lokasi
/var/lib/mysql/.
BAB II
MEDIA
PENYIMPAN
Media Penyimpan
Media penyimpan merupakan
perangkat yang dapat digunakan untuk menyimpan data/informasi. Data disini
dapat berupa dokumen, program atau lainnya. Cara menyimpan informasi pada media
penyimpan ini bermacam-macam, mulai dengan cara manual melalui penulisan
tangan, vibrasi akustik pada perekaman suara, hingga modulasi elektromagnetik
pada tape dan disk optik.
Berdasarkan aksesnya media
penyimpanan dibedakan menjadi macam, yakni media penyimpanan primer dan media
penyimpanan sekunder. Media penyimpanan primer adalah media yang dapat diakses
secara langsung oleh prosesor. RAM dan ROM adalah contoh media primer ini.
Sedangkan media penyimpanan sekunder adalah media yang aksesnya dilakukan
melalui perantara media penyimpanan primer. Pada bahasan kali ini akan
difokuskan pada media penyimpanan sekunder.
Media penyimpan saat ini lebih
banyak dikembangkan dengan menggunakan komponen-komponen elektronika. Oleh
karena itu memerlukan daya untuk menyimpan dan membaca datanya. Kestabilan daya
dapat mempengaruhi kinerja medi Bentuk dari media penyimpan ini juga
bermacam-macam, seperti harddisk, usb flash drive, floppy disk, solid state
drive dan sejenisnya.
Instalasi sistem operasi saat
ini, khususnya Linux dapat dilakukan pada banyak jenis media penyimpan baik itu
harddisk, USB flash drive, floppy disk, CD ROM, DVD ROM, dan solid state drive.
Sistem operasi yang dijalankan langsung melalui CD/DVD/USB flash drive dikenal
sebagai Live Operating System. Ada banyak sistem operasi Linux yang mampu
dijalankan secara langsung ini, diantaranya adalah Knoppix, Ubuntu, Mint,
Slackware, dan Fedora. Jadi, dengan adanya Live OS ini memungkinkan semua orang
dapat mencoba suatu sistem operasi baru tanpa perlu menginstalnya terlebih
dahulu.
Selain jenis media penyimpan yang
telah ditunjukkan diatas, sekarang ada juga media penyimpan online (cloud
storage) yang sampai saat ini masih banyak digunakan untuk penyimpanan data
atau file. Ada juga sistem operasi yang dapat diakses secara online (cloud
operating system) seperti Google Chrome OS, ZeroPC.com, Jolicloud.com,
iSpaces.com, dan eyeOS.com.
Pengelolaan Media
Penyimpan
Kegiatan
yang tercakup dalam pengelolaan media penyimpan ini meliputi.
a.
Pemantauan kapasitas
b.
Perluasan kapasitas
c.
Migrasi media penyimpan
d.
Backup dan recovery
e.
Virtualisasi sistem
f.
Penghapusan data
Pemantauan Kapasitas
Pemantauan disini digunakan untuk
mengetahui besarnya penggunaan harddisk oleh user. Hasilnya dapat berupa data
statistik besarnya ruang media penyimpan yang digunakan oleh user per satuan
waktu, misalnya hari, minggu, bulan ataupun tahunan. Materi lebih jauh tentang pemantauan
kapasitas dapat dilihat pada pertemuan tentang manajemen kapasitas. Dari hasil
pemantauan ini, nantinya akan dapat diperkirakan kebutuhan media penyimpan oleh
sistem.
Perluasan Kapasitas
Perluasan ini merupakan kegiatan
untuk menambah daya tampung dari suatu sistem dengan tambahan media penyimpan.
Redundant Array of Independent Disks (RAID) merupakan salah satu teknologi yang
digunakan untuk menambah media penyimpan. Dalam teknologi RAID media penyimpan,
dalam hal ini harddisk, dihubungkan satu sama lain sedemikian rupa hingga
membentuk suatu kaitan. Tujuannya tiada lain adalah untuk memperluas kapasitas,
kemampuan dan kehandalan sistem.
Migrasi Media
Penyimpan
Kegiatan ini dapat dikatakan
sebagai lanjutan dari proses pemantauan kapasitas yang dilakukan oleh
sebelumnya. Migrasi ini dapat terjadi karena beberapa alasan, misalnya karena
adanya kebutuhan transfer data yang lebih besar dan lebih cepat. Proses migrasi
media penyimpan ini secara prinsip sama dengan menyalin setiap file yang ada di
media penyimpan lama ke yang baru. Aplikasinya, di Linux dapat menggunakan tar,
dd, rsync atau sejenisnya.
Backup Dan Restore
Mengingat pentingnya menjaga
keutuhan data pada media penyimpan, kegiatan ini memerlukan perhatian
tersendiri. Materi lebih lanjut mengenai backup dan restore dapat dilihat pada
materi tentang Backup dan Restore.
Virtualisasi/Kloning
Sistem
Virtualisasi merupakan kegiatan
yang dilakukan untuk menyalin suatu sistem ke media penyimpan lain, sehingga
memungkinkan untuk melakukan restore apabila terjadi masalah pada sistem
berjalan saat ini. Aplikasinya dapat menggunakan dd, partimage, gparted ataupun
clonezilla.
Penghapusan Data
Penghapusan data ini berkaitan
dengan masalah keamanan data. Aplikasi Linux yang dapat digunakan untuk
melakukan operasi ini, diantaranya rm, srm, wipe, shred dan dd. Penghapusan ini
sekiranya perlu diperhatikan agar jangan sampai menghapus file penting di
sistem. Berikut ini diberikan beberapa format perintah penghapusan menggunakan
rm.
rm –f /lokasi/file.ext
atau
rm –rf
/lokasi/direktori
Perintah pertama dapat digunakan
untuk menghapus file dan yang kedua untuk direktori beserta semua file yang ada
didalamnya. Penghapusan semua file pada satu partisi dapat dengan menggunakan
aplikasi shred, wipe ataupun dd.
PARTISI HARDDISK
Partisi merupakan proses yang
umumnya dilakukan setelah pemformatan tingkat rendah atau sebelum pemformatan
logikal. Pada pembuatan partisi ini, harddisk akan dibagi menjadi bagian yang
lebih kecil secara logikal sedemikian rupa sehingga user melihatnya seperti
harddisk terpisah. Partisi ini sering juga disebut volume atau drive. Dengan
adanya partisi ini pengelolaan data untuk media penyimpanan terbatas masih
dimungkinkan. Kebanyakan data dan aplikasi ditempatkan dalam partisi/media
penyimpanan yang berbeda sehingga memudahkan dalam mengelola file-file yang
ada.
Sebuah partisi dibentuk dari
kumpulan silinder pada harddisk. Kumpulan silinder inilah yang menentukan
ukuran dari partisi tersebut. Dengan adanya pembagian ini memungkinkan user
menggunakan lebih dari satu sistem file pada masingmasing partisi. Hal ini karena
satu sistem file hanya dapat diterapkan pada satu partisi/harddisk.
Terdapat tiga kategori partisi
yang ada, yakni partisi primer, extended dan partisi logikal. Informasi mengenai partisi pada suatu
harddisk ini tersimpan pada Master Boot Record dari harddisk tersebut.
Informasi ini disusun sedemikian rupa dalam satu tabel partisi dengan panjang
data 16 byte. Setiap harddisk hanya dapat memiliki satu tabel partisi. Aturan
yang digunakan untuk penataan partisi komputer pribadi ini adalah maksimal 4
partisi primer atau 3 partisi primer dan 1 partisi extended dalam satu
harddisk. Partisi logikal dibuat dalam partisi extended. Jumlah partisi logikal
dalam partisi extended tidak dibatasi
PARTISI PRIMER
Setiap satu partisi primer dapat
memiliki satu sistem file. Setiap sistem file diindentifikasi dan disimpan
dalam bentuk kode unik sebagai pembeda dengan sistem file lainnya. Contoh
sistem file seperti NTFS memiliki kode 0x07, sistem file Linux (ext2, ext3,
ext4, EeiserFS, dan sejenisnya) menggunakan kode yang sama yakni 0x83.
PARTISI
EXTENDED
Satu harddisk dapat memiliki
maksimal hanya satu partisi extended. Nantinya dari partisi ini dapat
dibagi-bagi lagi menjadi partisi logikal. Setiap partisi logikal ini juga dapat
diberikan sistem filenya sendiri-sendiri. Partisi jenis ini hadir karena
keterbatasan jumlah partisi primer yang dapat dibuat dalam satu harddisk.
PARTISI
LOGIKAL
Ini merupakan partisi yang
jumlahnya dapat dibuat lebih banyak dari partisi primer dalam satu harddisk.
Partisi ini dapat dihasilkan hanya melalui partisi extended.
Operasi-operasi yang dapat dilakukan terhadap
suatu partisi, yakni pembuatan, penggabungan, pengubahan ukuran, penyalinan
data, dan penghapusan partisi. Saat ini telah ada banyak aplikasi yang dapat
digunakan untuk mengolah partisi di Linux, diantaranya adalah GParted
(gparted.org) untuk antarmuka GUI dan fdisk serta parted untuk CLI. Secara bawaan aplikasi
fdisk telah terinstal sewaktu instalasi Debian. Sedangkan instalasi aplikasi
parted dan gparted dapat dilakukan dengan menggunakan perintah berikut
ini.
apt-get
install gparted
apt-get
install parted
apabila berhasil aplikasinya
dapat ditemukan di menu Applications > System Tools > Administration >
GParted Partition Editor, atau melalui terminal dengan mengetik perintah
gparted sebagai user root. Aplikasi parted yang berbasis teks dapat diakses
langsung melalui terminal dengan mengetikkan perintah parted
FORMAT HARDDISK
Harddisk merupakan media
penyimpan yang digunakan untuk menyimpan file. Agar dapat digunakan secara
efektif dan efisien perlu ada penataan terhadap harddisk tersebut. Proses
penataan ruang harddisk ini dikenal dengan istilah pemformatan disk (disk
formatting).
Pemformatan disk secara umum
terbagi menjadi dua jenis, yakni pemformatan tingkat rendah (low level
formatting/physical formatting) dan pemformatan logikal (high level
formatting).
Pada pemformatan tingkat rendah,
suatu disk akan dibagi menjadi beberapa trek, sektor serta silinder.
Pemformatan tingkat rendah ini diperlukan agar pihak manufaktur dapat melakukan
pengujian disk dan mendeteksi sektor-sektor kosong yang ada. Pemformatan
tingkat rendah saat ini dapat dikatakan sudah sangat jarang dilakukan oleh user
karena prosesnya telah dikerjakan oleh perusahaan pemanufaktur harddisk
Selanjutnya, pada pemformatan logikal ini harddisk akan
ditata menggunakan sistem file tertentu, misalnya sistem file FAT, NTFS
atau Ext4.
SISTEM FILE
Sebagaimana telah dijelaskan pada
materi Sistem file sebelumnya, bahwa terdapat dua definisi yang digunakan saat
ini. Pada bahasan kali ini akan difokuskan pada pengertian bahwa sistem file
merupakan suatu sistem yang diterapkan pada suatu partisi atau media penyimpan
yang mengatur tentang penyimpanan file pada media/partisi. Sistem ini
menjelaskan strukur dan aturan logis informasi pada media.
Saat ini sudah banyak sistem file yang
berhasil dikembangkan dan telah diterapkan pada berbagai media penyimpanan.
Berikut ini merupakan contoh beberapa sistem file yang telah digunakan.
NTFS
NTFS merupakan sistem file yang
dikembangkan oleh Microsoft dan diperkenalkan pertama kali pada sistem Windows
NT 3.1. Ini merupakan sistem file
default yang digunakan pada sistem operasi Windows terbaru. Sistem file ini
dibangun dengan melihat sistem file sebelumnya, yakni FAT dan HPFS. Fitur fitur
yang ada pada sistem file ini antara lain:
a)
NTFS
Log, merupakan kemampuan sistem ini untuk menyimpan perubahan yang dilakukan
pada suatu partisi. Hal ini dilakukan untuk menjaga keutuhan struktur data yang
ada dan memudahkan dalam melakukan perbaikan.
b)
Symbolic
links, dengan fitur ini memungkinkan untuk suatu informasi yang tersimpan pada
media memiliki nama file/folder yang berbeda-beda. Jadi satu file/folder dapat
memiliki nama alias.
c) Volume
mount points, fitur yang memungkinkan sistem file membuat link ke suatu partisi
(sistem file lainnya) yang sedang diakses. Link ini berupa folder pada suatu
drive. Fitur ini mirip seperti symbolic links tapi diberlakukan untuk link ke
sistem file bukan file ataupun folder lainnya.
d) Volume
shadow copy, fitur ini digunakan untuk
menunjuk kemampuan sistem dalam melakukan backup secara otomatis saat
modifikasi suatu file atau folder akan disimpan oleh user. Melaui fitur ini
dimungkinkan untuk membatalkan perubahan yang telah dilakukan pada file ataupun
folder.
e) Quota,
fitur yang diperkenalkan pada NTFS versi 3 ini memungkinkan administrator
menentukan besarnya alokasi hard disk untuk masingmasing user yang ada.
f) Panjang
nama file maksimal 255 karakter UTF-16. Sedangkan untuk kedalaman path bisa
mencapai panjang 32.767 karakter UTF-16. Pada drive, user tidak boleh membuat
file dengan nama $MFT, $MFTMirr, $LogFile, $Volume, $AttrDef, . (dot), $Bitmap,
$Boot, $BadClus, $Secure, $Upcase, dan $Extend.
g) Besarnya
partisi yang bisa dikelola oleh sistem ini adalah untuk cluster 64 kB (kilo
Byte) sekitar 256 TB (Tera Byte). Sedangkan untuk cluster 4 kB, maksimal
besarnya kira-kira 16 TB. Cluster disini merupakan unit yang membentuk suatu
file atau folder.
h)
Besarnya
file maksimal yang dapat disimpan secara desain adalah 16 EB (Exa Byte). Namun
dalam implementasinya pada Windows 8 dan Windows server 2012 besarnya ukuran
file adalah sekitar 256 TB
FAT
Sistem file ini merupakan sistem
file yang pertama kali dikembangkan oleh Microsoft. Sistem file yang memiliki
nama lengkap File Allocation Table ini masih diterapkan pada banyak perangkat
sampai saat ini, seperti pada floppy disk, solid-state memory cards, flash
memory cards, USB flash drives dan perangkat removeable lainnya. Berawal dari
FAT dengan 8 bit elemen tabel, sekarang sistem file ini telah dikembangkan
hingga mendukung 32 bit elemen tabel. Beberapa fitur yang telah dikembangkan
pada sistem file ini hingga versi terakhirnya diberikan sebagai berikut ini.
a)
Ukuran
maksimal dari suatu file adalah sekitar 4 GB.
b)
Ukuran
partisi/volume maksimal adalah 2TB. - Panjang nama file maksimal 255 karakter
UTF-16.
Ext (Extended File
System)
Pertama kali dikembangkan oleh
Rémy Card, sistem file ini merupakan yang pertama pada sistem operasi Linux.
Varian terbaru dari sistem ini adalah ext4. Ext4 mulai diterapkan mulai kernel
Linux versi 2.6. Berikut ini beberapa fitur yang dimiliki oleh sistem file ini.
a) Mendukung
ukuran partisi/volume hingga 1 EB (Exa Byte), ukuran file hingga 16 TB (Tera
Byte) dan ukuran panjang path tidak dibatasi.
b)
Kompatibel
dengan sistem file sebelumnya, ext2 dan ext3. Fitur ini memungkinkan user untuk
membaca partisi ext2 atau ext3 melalui driver untuk ext4.
c) Persistent
pre-allocation, kemampuan untuk membuat file kosong. File jenis ini banyak
digunakan pada aplikasi streaming dan database.
d) Sistem
ini dapat memiliki jumlah subdirektori yang tidak terbatas untuk ext4, sedangkan
ext3 mendukung maksimal 32.000 subdirektori.
e) Pengecekan
Sistem File yang lebih cepat. Ini dapat terjadi karena blokblok yang tidak
digunakan telah ditandai dan dapat diabaikan dalam prosesnya sehingga
pengecekan dapat dilakukan lebih cepat.
OPERASI SISTEM FILE
Operasi-operasi yang
berkaitan dengan sistem file, diantaranya adalah sebagai berikut.
Operasi
|
Penjelasan
|
Format
|
Ini
merupakan operasi untuk mendefinisikan sistem file yang akan digunakan pada
satu media penyimpan atau partisi. Format perintahnya
mkfs
–t tipe partisi
atau
mkfs.*
partisi
keterangan:
Tipe : jenis sistem file yang digunakan, dapat berupa ext2, ext3 atau ext4.
Jika tidak memberikan parameter ini secara bawaan nilainya adalah ext2.
Partisi : partisi atau media penyimpan yang akan diformat. Informasi partisi
yang aktif atau dapat diakses oleh sistem dapat dilihat dengan menggunakan
program fdisk ataupun gparted. mkfs.* : tanda bintang pada pernyataan ini
dapat juga digunakan untuk menentukan jenis sistem file yang mau digunakan.
contoh:
mkfs –t ext4 /dev/sdb1
atau
mkfs.ext4
/dev/sdb1
|
Cek dan perbaikan
|
Operasi ini berguna untuk
memperbaiki kondisi suatu sistem file yang mengalami kerusakan. Format
perintahnya:
fsck partisi
contoh: fsck /dev/sdb1
Keterangan: Pastikan partisi
yang akan dicek tidak sedang dimount atau digunakan
|
Umount
|
Ini merupakan kebalikan dari
operasi mount. Setiap kali sistem akan dimatikan, telah ada prosedur khusus
yang akan secara otomatis melakukan umount untuk semua sistem file yang
dimount. Format perintahnya:
umount partisi
|
Mount
|
Operasi ini perlu dilakukan
agar user dapat mengakses file-file yang ada dalam satu partisi. Format
perintahnya:
mount partisi /lokasi/akses
keterangan: /lokasi/akses
disini merupakan direktori tempat mengakses isi partisi yang akan dimount
tersebut. Apabila direktori ini belum ada dapat dibuat terlebih dahulu dengan
perintah mkdir.
Contoh: mkdir /mnt/usb1
mount /dev/sdb1 /mnt/usb1
Sistem operasi juga memiliki
file /etc/fstab yang berisikan tabel partisi yang akan dimount pada saat
startup
|
Keterangan
Perintah-perintah pada tabel
diatas hanya berlaku untuk sistem Linux tidak untuk sistem Windows atau
lainnya.
Beberapa operasi yang sering dilakukan user
terhadap informasi dalam sistem file adalah: penyimpanan (penulisan) informasi
pada media penyimpan, pengambilan (pembacaan) informasi yang tersimpan pada
media penyimpan, penghapusan informasi yang tersimpan pada media penyimpan, dan
pemindahan informasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya dalam media penyimpan.
Sistem file dalam operasi-operasi diatas berperan untuk menulis dan mengambil
data dari dan ke media penyimpan
MANAJEMEN USER
Hampir semua sistem operasi baru
saat ini sudah dikembangkan dengan konsep multiuser dan multitasking, sehingga
merupakan hal yang umum apabila dalam setiap komputer akan ada mekanisme
identifikasi setiap orang yang akan menggunakannya. Sistem Debian juga mendukung
sistem multiuser ini, dimana dalam satu waktu dapat lebih dari satu user yang
mengakses sistem ini.
Terkait dengan lingkungan multiuser tersebut,
pada materi kali ini akan dibahas berbagai teknik pengelolaan yang berkaitan
dengan user. Pengelolaan disini meliputi:
a)
Pembuatan
user baru
b)
Perubahan
data user
c)
Penghapusan
user
Pada sistem Linux user
didefinisikan dengan menggunakan nama user (username) ataupun ID user (UID).
UID dinyatakan dalam bentuk numerik dan nilainya dapat ditentukan otomatis oleh
sistem saat user pertama kali didaftarkan atau dapat juga oleh user sendiri.
Berbeda dengan username, merupakan data dalam format alfanumerik, yang namanya
ditentukan sendiri oleh user. Pada sistem Linux, setiap aplikasi diperbolehkan
memilih salah satu dari dua data ini untuk mengenali user yang menggunakan
aplikasinya. Namun, dari sisi user cenderung lebih mudah mengingat username
dibandingkan UID, karena dapat dibuat mewakili nama sebenarnya dari user.
PEMBUATAN USER BARU
Perintah berikut dapat digunakan
untuk membuat user baru. Agar dapat berjalan perintah ini harus dijalankan
dengan menggunakan user root di terminal.
adduser username
Selain perintah adduser ada juga
perintah useradd yang memiliki fungsi yang sama. Perintah diatas selain dapat
dijalankan di Debian juga dapat berlaku untuk sistem Linux lainnya.
Parameter-parameter pendukung lainnya untuk perintah ini dapat dilihat dengan
perintah man adduser atau adduser --help.
Selain penentuan username ada juga beberapa
data lainnya yang perlu diberikan, sebagai berikut:
a)
Password
(wajib)
b)
Nama
lengkap (tidak wajib)
c)
Nomor
ruang (tidak wajib)
d)
Telepon
kantor (tidak wajib)
e)
Telepon
rumah (tidak wajib)
f)
Lainnya
(tidak wajib)
Setiap user di sistem Linux diwajibkan untuk
memiliki password sebagai pengamanan awal. Pengamanan awal ini diperlukan
apabila ada data pribadi atau sensitif yang akan disimpan pada komputer karena
masih ada hal lain yang perlu dilakukan untuk mengamankan data. Berikut ini
merupakan contoh pembuatannya.
Perintah
berikut dapat digunakan untuk menguji apakah user tersebut telah berhasil
dibuat atau tidak.
su -
username
whoami
pwd
Perintah pertama berguna untuk
login menggunakan user lain, sedangkan yang kedua untuk mengetahui siapa user
yang login saat ini dan yang terakhir untuk mengetahui lokasi user saat ini.
Apabila sesuai maka perintah pwd akan menampilkan lokasi home untuk user
terpilih. Contohnya diberikan pada gambar berikut.
Secara bawaan untuk setiap user
baru akan dibuatkan direktori home-nya oleh sistem. Lokasinya ada di direktori
/home, yang nama direktorinya biasanya dibuat sama dengan nama usernya,
misalnya untuk user bintang, maka direktori home nya adalah /home/bintang.
Direktori inilah yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh user untuk menyimpan
file-file pribadinya.
PERUBAHAN DATA USER
Terkait dengan perubahan data user ini ada sejumlah perintah
terkait yang dapat digunakan, ditampilkan dalam tabel berikut:
Perintah
|
Penjelasan
|
chfn username
|
Penggantian data pribadi user seperti
nama lengkap, ruangan, telp. kantor, telp. rumah, dan lainnya. Apabila tidak
ada perubahan yang dilakukan cukup tekan enter pada setiap entri.
|
passwd username
|
Penggantian password user.
|
PENGHAPUSAN USER
Ini merupakan operasi yang dapat berefek cukup besar baik
pada user ataupun sistem, karena dapat menyebabkan kehilangan data ataupun
menyebabkan sistem tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu,
perlu perhatian khusus saat akan melakukan operasi ini. Apabila akan menghapus
suatu user dari sistem pastikan bahwa file-file penting milik user tersebut
sudah dibackup dan pastikan juga tidak ada proses di sistem yang memerlukan
user tersebut. Perintah penghapusan user diberikan sebagai berikut.
deluser username
atau
deluser --remove-home username
atau
deluser --remove-home --backup
username
Pada perintah pertama, penghapusan akan menyebabkan hanya
data user tersebut yang akan dihapus dari sistem. Apabila menggunakan perintah
yang kedua, penghapusan akan menyebabkan semua file yang tersimpan pada
direktori home dari user tersebut akan terhapus. Perintah terakhir ini mungkin
lebih aman karena sebelum menghapus semua isi dari direktori home user
tersebut, ada backup yang dibuat. Backup-nya dinyatakan dalam file terkompresi
(*.tar.bz2). Contoh penerapannya ditunjukkan sebagai berikut.
Selain menggunakan deluser untuk menghapus user juga
dapat menggunakan perintah userdel. Perintah userdel memiliki fungsi yang sama
hanya memiliki parameter yang berbeda dari deluser.
Semua data user
yang dioleh dalam perintah-perintah diatas oleh sistem Linux tersimpan pada
file /etc/passwd dan /etc/shadow. Pengubahan dapat juga dilakukan langsung
melalui file-file ini. Namun, harap berhati-hari karena semua user yang ada di
sistem juga disimpan pada file yang sama. Apabila tidak, akan dapat berdampak
pada sistem.
Perintah diatas hanya dapat dijalankan oleh user
root. Sebagai contoh pembuatan grup ditunjukkan pada gambar berikut:
Grup yang telah dihasillkan akan dihapus dari
sistem, termasuk juga dari file /etc/group.
Selain melalui CLI ada juga aplikasi GUI untuk melakukan
manajemen ini, yakni melalui aplikasi User Accounts. Aplikasi ini dapat diakses
di Debian melalui menu Applications > System Tools > Preferences >
System Settings > System: User Accounts.
Pada aplikasi User Accounts tombol Unlock perlu diklik
dahulu agar dapat menambahkan, memodifikasi ataupun menghapus user. Setelah itu
akan muncul window baru untuk memasukkan password root.
MANAJEMEN GRUP
Ada banyak file yang dihasilkan di sistem, baik yang
dibawa oleh sistem Linux sendiri ataupun file dari user. Akses ke setiap file
tersebut perlu adanya pembatasan (pengelompokkan), sehingga dapat menjamin
kinerja sistem tetap baik dan data-data sistem/user tetap aman. Pengelompokan
hak akses ini oleh Linux diterapkan dengan membuat grup akses. Bukan hanya
user, setiap aplikasi server dapat memiliki grupnya sendiri-sendiri. Selain
untuk pembatasan akses, grup juga dapat digunakan untuk melakukan klasifikasi
user-user yang ada di sistem.
Manajemen grup di
Linux dapat meliputi kegiatan, seperti penambahan grup baru dan penghapusan
grup.
PENAMBAHAN GRUP BARU
Perintah berikut dapat digunakan untuk menambahkan grup
baru di Linux:
groupadd namagroup
Apabila berhasil dijalankan seperti contoh diatas, maka
pada file /etc/group akan ada tambahan baris yang menyatakan grup baru yang
telah dibuat. Hal yang sama juga berlaku untuk grup di Linux seperti layaknya
user, dimana setiap grup akan memiliki nama dan juga ID grup (GID).
PENGHAPUSAN GRUP
Operasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan perintah
berikut.
groupdel namagrup
MANAJEMEN GRUP USER
Manajemen grup user merupakan aktivitas yang digunakan
untuk mengelola user dalam grup-grup tertentu sesuai hak akses dan
kewajibannya. Dalam lingkungan multiuser ini merupakan hal yang wajib
dilakukan. Jadi pengelolaan user grup disini adalah kegiatan penempatan user-user
dalam grup-grup yang tersedia. Pada sistem Linux, satu user dapat ditempatkan
pada lebih dari satu grup dan satu grup dapat memiliki lebih dari satu user.
Setiap user di Linux akan ditempatkan ke minimal satu grup, yang umumnya
memiliki nama sama dengan username pada saat pembuatan pertama kali. Grup yang
namanya sama dengan username ini adalah grup utama dari user tersebut.
Pengelolaan kali
ini tidak melibatkan sesuatu yang baru, karena baik grup ataupun user sudah ada
(dibuat) sebelumnya. Materi tentang manajemen user dan grup dapat dilihat
kembali pada pertemuan sebelumnya.
PEMBACAAN
STATUS GRUP USER
Agar dapat mengetahui suatu user telah ditempatkan pada
grup apa saja dalam sistem dapat menggunakan perintah berikut.
groups username
Contoh hasil dari perintah ini diberikan dalam gambar berikut.
Pada gambar dapat dilihat bahwa perintah ini dapat
dijalankan dengan menggunakan user selain root. Selain itu pada gambar juga
ditunjukkan bahwa user kdsurya ditempatkan pada lebih dari satu grup.
PENAMBAHAN
USER KE GRUP
Perintah berikut ini dapat digunakan untuk menambahkan
user ke dalam grup tertentu. Perintah ini dapat dijalankan menggunakan user
root.
usermode -G namagrup
username
atau
usermode -a -G
namagrup username
Apabila menggunakan perintah pertama akan menyebabkan
user tersebut hanya akan terdaftar pada grup utama dan grup yang ditentukan
tersebut. Sedangkan pada perintah kedua, adanya tambahan parameter –a hanya
akan menambahkan user tersebut ke grup baru itu, tanpa mengeluarkannya dari
grup lainnya yang sudah ada. Contoh simulasi percobaannya diberikan pada gambar
berikut.
Pada gambar percobaan sebelumnya dapat dilihat bahwa
perintah usermod –G video bintang akan menyebabkan user bintang keluar dari
grup cdrom. Agar dapat berada pada dua grup tambahan tersebut maka pada
perintah berikutnya ada tambahan parameter –a pada perintah usermod.
Belajar dari
contoh kasus diatas perlu berhati-hati saat menjalankan perintah ini karena
dapat saja kesalahan ketik terjadi, yang menyebabkan user kehilangan hak
aksesnya ke suatu grup. Pencegahan dari kasus ini dapat dengan membuat semacam
tabel tersendiri yang berisikan daftar user besarta grupnya, atau sebelum
menambahkan user ke suatu grup cek dahulu statusnya.
Selain
mangelola user dan group, manajemen ini juga terkait dengan pengeloaan hak
akses terhadap file-file yang ada di sistem. Berikut ini merupakan
perintah perintah operasi file yang dapat digunakan untuk mengelola hak akses
ini
Perintah
|
Penjelasan
|
chmod
|
Perintah untuk mengubah mode
akses dari suatu file atau direktori. Format perintahnya:
chmod numerik /lokasi/file
atau
chmod numerik
/lokasi/direktori
atau
chmod -r numerik
/lokasi/direktori
Paramter –r pada perintah chmod
berguna untuk menerapkan hak akses yang sama untuk semua file yang ada
didalam direktori tersebut. Parameter numerik digunakan untuk menentukan hak
akses yang akan diterapkan. Nilai numerik ini ditunjukkan pada gambar
berikut.
Setiap file di Linux akan
memiliki tiga jenis hak akses, yakni akses oleh user (pembuat), grup
(kelompok dari user) dan lainnya (other). Masing-masing memiliki kemampuan
untuk membaca (read), menulis/mengubah (write), dan mengeksekusi (execute).
Setiap kemampuan ini oleh Linux diberi nilai 4 untu membaca, 2 untuk menulis
dan 1 untuk eksekusi. Yang digunakan dalam perintah chmod adalah
penjumlahannya. Misalnya, akan diberikan akses user (baca, tulis dan
ekseskusi), group (baca dan eksekusi) dan lainnya (baca) ke file
/home/kdsurya/halo.txt, maka perintahnya adalah:
chmod 754
/home/kdsurya/halo.txt
Angka 7 untuk user diperoleh
dari 4 + 2 + 1 yaitu hak akses baca, tulis dan eksekusi. Sedangkan nilai 5
untuk grup dari hak akses baca dan eksekusi dan terakhir nilai 4 karena
lainnya hanya diberi akses baca saja
|
chown
|
Perintah ini untuk mengganti
kepemilikan dari suatu file atau direktori. Format perintahnya.
chown pemilik
/lokasi/file
atau
chown pemilik
/lokasi/direktori
atau
chown –r pemilik
/lokasi/direktori
keterangan: pemilik disini
merupakan user atau group yang akan menjadi pemilik untuk file atau direktori
yang ditunjuk. Pemilik ini dapat dituliskan sebagai berikut.
user
Atau
user:group
Contoh, file
/home/kdsurya/halo.txt akan dialihkan kepemilikannya ke user bintang dengan
group bintang, perintahnya:
chown bintang:bintang /home/kdsurya/halo.txt
|
chgrp
|
Perintah ini juga digunakan
untuk mengganti grup yang memiliki suatu file atau direktori. Format
perintahnya:
chgrp nama-grup
/lokasi/file
atau
chgrp nama-grup
/lokasi/direktori
atau
chgrp -r nama-grup
/lokasi/direktori
|
MANAJEMEN
KUOTA
Kuota merupakan salah satu fitur dari sistem operasi
Linux. Melalui fitur ini penggunaan media penyimpanan dapat dikelola besarnya
untuk tiap user ataupun group yang ada.
Fitur ini berguna untuk mengendalikan penggunaan ruang
harddisk oleh user. Pembatasan kuota ini dapat diberlakukan untuk tiap
filesystem, file atau inodes (metadata file). Jadi, dapat dikatakan bahwa
terdapat tiga jenis implementasi kuota pada Linux, yakni blocks quota, file
quota dan inodes quota.
Dilihat dari pembatasannya, terdapat dua jenis pembatasan
yang dapat diberikan, yakni:
1. Hard limit, digunakan untuk membatasi kuota tanpa ada
tolerasi penambahan file sehingga melebihi batas yang ditentukan. Misalnya,
jika hard limit di set ke 2 GB, maka user tidak dapat membuat/menambah file
lagi apabila kuotanya sudah terpenuhi.
2. Soft limit, apabila batas ini dilewati maka sistem akan
menampilkan pesan peringatan bahwa file yang akan ditambahkan melewati kuota
yang telah ditentukan. Namun, file tersebut tetap dapat ditambahkan tapi tetap tidak
dapat melewati batas hard limit. Misalnya, apabila kuota soft limit 1 GB telah
terpenuhi, maka jika user menambahkan file lagi akan mendapatkan pesan
peringatan dan file tetap dapat ditambahkan asal tidak melewati batas hard
limit.
Pada sistem Linux fitur manajemen kuota ini telah ada
sejak kernel versi 3.6. Pembatasan kuota ini pada Linux didefinisikan pada file
aquota.user untuk pembatasan kuota user dan aquota.group untuk pembatasan kuota
grup. Sedangkan aplikasinya dinamakan quota dan dapat dijalankan melalui
terminal. Berikut ini merupakan daftar aplikasi ataupun file yang diperlukan
pada saat implementasi kuota ini.
APLIKASI/FILE
|
PENJELASAN
|
Quota
|
Program untuk menampilkan
informasi penggunaan kuota dan sisa oleh user.
|
Edquota
|
Program untuk mengubah aturan
kuota user/group
|
Repquota
|
Program untuk melihat rangkuman
informasi kuota pada suatu filesystem
|
Program untuk mengetahui
konsistensi kuota pada suatu filesystem
|
|
Quotaon
|
Program untuk menutup ataupun
mengaktifkan kuota
|
/etc/fstab
|
Daftar filesystem yang diakses
saat Linux berjalan
|
Sebagaimana sistem operasi pada umumnya digunakan sebagai
pondasi berjalannya aplikasi-aplikasi user. Aplikasi user disini dapat berupa
aplikasi pengolah kata/teks/dokumen, pengolah angka, presentasi dan pemutar
musik dan film, dan sebagainya. Aplikasi tersebut akan dapat tetap digunakan
selama pengelolaannya dapat dilakukan dengan baik. Manajemen aplikasi disini
dapat berupa kegiatan instalasi, penghapusan (uninstalasi), pembaruan (update)
dan peningkatan (upgrade).
Pada sistem Debian
telah tersedia program untuk pengelolaan aplikasi ini baik dalam bentuk CLI
ataupun GUI, yakni:
1. Versi CLI: apt-get (APT, Advanced Packaging Tool) dan
aptitude
2. Versi GUI: Synaptic Package Manager dan Gnome Package Kit
Pada materi ini pembahasan pengelolaan aplikasi akan difokuskan untuk aplikasi
apt-get dan synaptic package manager.
Program apt-get dapat digunakan untuk melakukan
pengelolan aplikasi user. Mekanismenya diatur melalui pemberian
parameter-parameter tertentu pada aplikasi apt-get. Parameter-parameter
tersebut diberikan pada tabel berikut:
Perintah
|
Penjelasan
|
apt-get install nama-aplikasi
|
Perintah untuk melakukan instalasi
satu atau lebih aplikasi
Contoh:
apt-get install zip
apt-get install lsof samba
mysql-client
|
apt-get remove namaaplikasi
|
Perintah ini digunakan apabila
ingin menghapus aplikasi dari sistem (uninstalasi) tanpa menghapus file
konfigurasi yang ada
Contoh:
apt-get remove zip
|
apt-get --purge remove
nama-aplikasi
|
Sama seperti apt-get remove
hanya saja dengan ini semua file konfigurasi yang dihasilkan akan dihapus
Contoh:
apt-get --purge remove
mysql-server
|
apt-get update
apt-get upgrade
|
Ini merupakan rangkaian
perintah yang perlu dijalankan untuk mengupdate semua aplikasi yang telah
terinstal
|
apt-get update
apt-get dist-upgrade
|
Kalau pada perintah diatas
apt-get akan melakukan update aplikasi yang ada termasuk juga sistem. Berbeda
dengan rangkaian perintah ini, perintah ini digunakan untuk melakukan upgrade
sistem operasi ke versi yang lebih baru, misalnya dari Debian 6 (Squeeze) ke
Debian 7 (Wheezy).
|
MANAJEMEN
REPOSITORI
Pada sistem Linux dikenal adanya istilah repositori.
Istilah ini digunakan untuk menunjuk ke suatu kumpulan file. File-file disini
dapat berupa librari ataupun aplikasi Linux terkait. Melalui repositori itulah
para pengguna Linux dapat melakukan instalasi aplikasi. Setiap distro Linux
memiliki repositorinya sendirisendiri, walaupun ada juga yang dapat menggunakan
repositori distro lainnya. Repositori ini sendiri dapat dikatakan sebagai
sebuah server file, karena memberikan layanan akses file kepada user Linux.
Selain itu repositori juga dapat berupa CD atau DVD.
Ada banyak hal
yang dapat dilakukan terkait dengan manajemen repositori. Namun pada materi
kali ini akan lebih banyak dibahas mengenai pengelolaan repositori pada
komputer klien (pengguna Linux). Hal ini karena dalam komputer klien juga dapat
memiliki lebih dari satu repositori untuk sumber instalasi aplikasinya dan
melalui pengelolaan ini dapat membantu kinerja sistem lebih efisien dalam hal
update ataupun upgrade nantinya. Pengelolaan ini dapat berupa penambahan,
perubahan dan penghapusan repositori yang ada.
Pada sistem Debian
data repositori disimpan dalam file konfigurasi /etc/apt/sources.list.
Pengelolaan repositori di Debian akan selalu berhubungan dengan file ini.
Aplikasi bantuan yang dapat digunakan untuk mengelola repositori ini
diantaranya adalah APT dan Synaptic Package Manager.
Secara umum,
terdapat dua jenis format repositori yang dapat ditambahkan ke dalam file
konfigurasi, yakni:
a.
Repositori resmi, merupakan format yang umum digunakan di
sistem Debian saat ini.
deb http://host/debian distribution section1 section2
section3
deb-src http://host/debian distribution section1 section2
section3
Contohnya:
deb http://http.us.debian.org/debian stable main contrib
non-free
deb http://security.debian.org stable/updates main
contrib non-free
b.
Repositori terbatas, saat ini masih digunakan untuk
sistem Debian 3 (Sarge) kebawah.
deb http://example.org/debian ./
Pernyataan deb dan deb-src masing-masing digunakan untuk
menunjukkan bahwa repositori yang digunakan adalah kumpulan file binari dan
kumpulan file sumber. Apabila bersumber dari file binari proses instalasinya
akan lebih cepat karena tidak ada proses kompilasi ulang file aplikasinya
daripada file sumber.
PENAMBAHAN REPOSITORI BARU
Ada beberapa langkah yang mesti dilakukan untuk dapat
menambahkan repositori baru ke debian sebagai berikut.
Apabila sumbernya dalam bentuk CD/DVD maka perintah
berikut dapat digunakan untuk menambahkan repositori dari DVD tersebut.
apt-cdrom add
a.
Tentukan repositori yang ingin ditambahkan, misalnya akan
menambahkan repositori Debian dari Universitas Indonesia dengan alamat.
deb http://kambing.ui.ac.id/debian/ wheezy main
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian/ wheezy main
b.
Edit file /etc/apt/sources.list menggunakan editor teks
nano atau sejenisnya. Tambahkan setiap baris yang telah ditentukan diatas pada
bagian akhir dari file tersebut.
c.
Jalankan perintah berikut agar repositori yang
ditambahkan dapat diadopsi ke sistem Debian di komputer, terutama apabila
terdapat update untuk aplikasi.
apt-get update
PERUBAHAN/PENGHAPUSAN DATA REPOSITORI
Perubahan terkait penggantian data ataupun penghapusan
dapat dilakukan langsung dari file /etc/apt/sources.list. Apabila yang
diinginkan hanya menonaktifkan repositori tertentu cukup dengan memberikan
tanda pagar (#) diawal barisnya










